Kasus Prak. Penetapan Harga 21Cineplex



Mengejar Perkembangan 21 Cineplex Dengan Strategi Harga Berdasar Lokasi

21Cineplex

21Cineplex merupakan jaringan bioskop yang berperan sebagai pemimpin pasar dan mulai beroperasi sejak 1987. Data sampai dengan tahun 2012, 21Cineplex telah memiliki total 575 layar tersebar di 122 lokasi di seluruh Indonesia. 21Cineplex adalah jaringan bioskop yang merupakan bagian dari perusahaan Grup 21. Sineples ini memiliki tiga segmen berbeda dengan branding juga berbeda, yaitu Cinema 21, Cinema XXI, dan The Premiere untuk target pasar yang tidak sama. Klasifikasi merek yang ada dibawah 21Cineplex dianggap sebagai bentuk untuk memberikan pelayanan terbaik sesuai dengan pasar. Mengingat posisi 21Cineplex adalah pelaku pasar monopoli, adanya persaiangan dari Blitzmegaplex menjadikan 21Cineplex semakin leluasa dalam memperbaiki strategi-strategi pemasarannya.

Strategi 21Cineplex

Perusahaan 21Cineplex telah menjadi market leader atau pemimpin pasar selama kurang lebih 20 tahun. Citra merek ini telah melekat dengan baik dalam pikiran konsumen. Apabila keinginan untuk menonton film muncul, pilihan akan langsung memutuskan pilihan pada 21Cineplex. Manajemen perusahaan ini sepertinya sadar bahwa untuk memperbaiki strategi bisnis agar bisa mempertahankan pangsa pasarnya di masa yang akan datang maka haruslah berimprovisasi dan berionavasi dengan baik. Improvisasi dan strategi inovasi tidak bisa hanya orientasi jangka pendek (menurunkan harga), melainkan harga harus disetting secara rationable price, yaitu harga yang dianggap wajar oleh konsumen. Disamping perlunya perumusan kembali pada strategi meliputi perubahan fundamental dalam fasilitas, service, renovasi gedung,  dan sejumlah aspek lainnya.

Strategi penentuan harga di 21Cineplex juga ikut mempertimbangkan lokasi bisokop dan waktu penayangan. Perubahan waktu dan harga juga menyesuaikan dengan kondisi persaiangan agar menarik konsumen untuk selalu menonton film. Perubahan harga harus disesuaikan karena mempertimbnagkan respon konsumen. Untuk hari biasa (Senin-Kamis), harga tiket masuk Cinema 21 Rp25.000 dan Rp30.000, sedangkan untuk Jum’at harga bervariasi dari Rp10.000 - Rp35.000, dan untuk akhir pekan Sabtu/Minggu/Libur harga berkisar Rp15.000 - Rp40.000 (data tahun 2012). Variasi harga ini menyesuaikan lokasi bioskp di mal.

Untuk Cinema XXI, HTM hari biasa (Senin-Kamis) sebesar Rp25.000 – Rp30.000, sedangkan untuk Jum’at harga Rp30.000 – Rp40.000, dan untuk akhir pekan Sabtu/Minggu/Libur harga berkisar Rp35.000 – Rp50.000. Untuk kelas 3D, harga tiket masuk hari biasa (Senin-Kamis) sebesar Rp30.000 dan Rp35.000, sedangkan untuk Jum’at harga Rp35.000 – Rp40.000, dan untuk akhir pekan Sabtu/Minggu/Libur harga berkisar Rp50.000 – Rp60.000. Untuk kelas the Premiere, harga tiket masuk untuk hari biasa (Senin-Kamis) sebesar Rp35.000 – Rp50.000, sedangkan untuk Jum’at harga Rp40.000 dan Rp75.000, dan untuk akhir pekan Sabtu/Minggu/Libur harga berkisar Rp50.000 – Rp100.000. Khusus untuk harga tiket masuk kelas IMAX, harga tiket masuk untuk hari biasa (Senin-Kamis) sebesar Rp50.000, sedangkan untuk Jum’at harga Rp75.000, dan untuk akhir pekan Sabtu/Minggu/Libur harga berkisar Rp100.000.

Media sosial juga digunakan untuk mendekatkan dengan para penonton sebagai konsumen yang loyal. Informasi terkini mengenai perkembangan film dan kegiatan di 21Cineplex dikomunikasikan melalui Twitter. Selain Twitter, 21Cineplex juga meluncurkan program Facebook Fanpage. Komunitas untuk diskusi dengan para konsumen bisa berlangsung intensif. Komunikasi lain yang dioptimalkan adalah melalui pembentukan 21 Club dan sms by movie. Komunikasi 21 Club merupakan layanan terbaru 21Cineplex yang memberikan kemudahan mengakses layanan 21 tanpa batas dan tanpa biaya. Konsumen bisa mendapatkan jadwal film, sinopsi singkat, kuis mingguan, konten film, dan konten-konten tematik. Konsumen yang akan menonton bisa mengirim sms untuk mengetahui informasi film terkini.

Kompetisi Industri Perfilman

Secara umum, industri perfilman memiliki tiga aspek utama, yaitu produksi, distribusi, dan ritel atau ekshibisi. Masing-masing aspek diwakili oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki keahlian di masing-masing negara. Aspek produksi meliputi aspek utama, yaitu pengajuan pendanaan, shooting production, dan post production. Pengajuan ide film bisa berasal dari script writer. Ide bisa dimunculkan melalui riset, studi referensi, atau wawancara dengan tokoh. Pendanaan, ketika ide film sudah diterima oleh bagian produksi, produser akan melakukan pencarian dana melalui perbankan atau organisasi-organisasi yang bersedia membiayai. Shooting production, sebelum melakukan shooting, ada proses casting, yaitu mencari peran sebagai aktor dan aktris dalam film. Pada tahapan ini, proses pembuatan film dilaksanakan. Proses pembuatan film bisa dilakukan baik indoor maupun outdoor. Post production, tahapan ini melibatkan sejumlah aktivitas yang berkaiatan dengan penyempurnaan film. Penyempurnaan merupakan proses editing yang bisa difasilitasi melalui warna, musik, atau efek suara. Penggunaan teknologi digital membantu penyempurnaan dalam tahapan post production. Perusahaan di Amerika yang memproduksi film, yaitu Hollywood, The Walt Disney Company, Touchtone Picture, Pixar Animation Studio, Marvel Studio, dan Sony Pictures Entertainment. Film-film yang diproduksi dari perusahaan ini banyak didistribusikan ke Indonesia. Di Indonesia, perusahaan produksi film cukup banyak antara lain 700 Pictures, Alenia Pictures, Batavia Pictures, Demi Gisela Citra Sinema, Genta Buana Paramita, Indika Entertainment, Kalyana Shira Films, Kharisma Starvision Plus, MD Entertainment, Miles Films, Mizan Production, Rapi Film, Soraya Intercine Films, Tripar Multivision Plus, dan Akasacara Film Vokasi Studis.

Distribusi. Pascaproduksi sebuah film, perusahaan akan memasuki tahap distribusi. Distribusi produk ini melalui proses yang bertahap. Distribusi film dapat melalui berbagai media, yaitu theatrical release, home entertainment melalui DVD atau Blue Ray Disc, dan program televisi. Dominasi distribusi perfilman dari Hollywood di Indonesia dimiliki oleh PT Camila Internusa Film dan PT Satrya Perkasa Esthetika Film. Film-film yang diimpor oleh dua perusahaan ini langsung ditunjukan untuk memasok 21Cineplex. Kedua perusahaan ini sebenarnya ada dalam satu atap/holding perusahaan. Dengan demikian, akses distribusi perfilman bisa terpenuhi dengan baik. Disisi lain, Jive Entertainment juga distributor film-film yang tidak hanya melakukan import film dari Hollywood, tetapi juga impor film-film yang diproduksi oleh Thailand, Hong Kong, Meksiko, dan sejumlah negara lain. Persaingan secara tidka langsung nampak dalam pemilihan distribusi. Distribusi ini dianggap penting sekali karena bisa menjamin kelangsungan peredaran film di sinepleks masing-masing peruisahaan. Dalam distribusi film, juga terdapat persaingan antardistributor film yang menjadi pemasok untuk bioskop-bioskop yang terafiliasi dengan sinepleks yang berada dalam satu perusahaan.

Eksibisi dan ritel. Proses distribusi yang lebih spesifik langsung ke konsumen adalah melalui distribusi ritel. Distribusi ritel berfungsi untuk memberikan ekshibisi mengenai film. Distribusi ritel meliputi sejumlah pihak yang menyalurkan film langsung ke konsumen. Pertama, film didistribusikan melalui sinepleks. Sinepleks yang dijadikan sebagai media meliputi sinepleks atau bisokop utama atau yang biasa disebut sebagai sinepleks first run. Sinepleks ini bertujuan untuk memutar film-film terbaru. Pemutaran film ini berlangsung untuk beberapa pekan, yang kemudian dilanjutkan di sinepleks second run. Sinepleks ini biasanya terletak pada lokasi-lokasi di luar kota yang memiliki konsumen sebagai target pasar yang lain. Pada kenyataannya, film yang sudah diputar pada sinepleks first run, tidak sampai diputar pada sinepleks second run. Pembajakan merupakan faktor utama dalam memutus rantai pemutaran di sinepleks second run. Konsumen tidak perlu menunggu lagi untuk melihat tayangan film sehingga bisa mempercepat waktu menikmati film. Selain adanya pembajakan, kemajuan teknologi memudahkan konsumen bisa melakukan pengunduhan melalui Youtube atau saluran internet lainnya. Kedua, distribusi ritel produk film bisa melalui stasiun televisi. Film-film yang ditayangkan di televisi biasanya merupakan film-film yang sudah dilakukan penyangan perdana melalui sinepleks. Ketiga, selain adanya distribusi ke stasiun televisi, distribusi juga dilakukan melalui televisi kabel. Di Indonesia, rumah produksi cukup banyak dan performanya baik. Banyaknya rumah produksi ini memberikan pasokan terhadap jumlah film nasional yang besar. Namun, kendala yang muncul berkaitan dengan distribusi ritel adalah terbatasnya jumlah sinepleks yang ada di Indonesia. Dengan munculnya Blitzmegaplex dan lain sebagainya (harapannya jumlah akan semakin bertambah), sebagai ekshibisi film, dapat membantu dalam penayangan film-film yang diproduksi di Indonesia.

#Riset milik Iin Mayasari MM FEB UGM #Promotor oleh Basu Swastha
#Dikembangkan kembali dalam narasi berbeda oleh Bahrul Fauzi Rosyidi

Pertanyaan:
  1. Buatlah analisis mengenai latar belakang 21Cineplex mengadakan strategi penentuan harga dengan mempertimbangkan kota, lokasi bioskop dan waktu penayangan untuk data harga tahun 2018 ini, dengan dua faktor, yaitu:
    1. Kondisi persaingan industri perfilman (produksi, distribusi, dan ekshibisi) di Indonesia;
    2. Perilaku konsumen dalam menonton film.
  2. Buatlah analisis tahapan penetapan harga 21Cineplex berdasarkan pertimbangan kota, lokasi bioskop dan waktu penayangan dengan memberikan penjelasan secara terperinci pada masing-masing tahapan, yaitu:
    1. Tujuan penetapan harga (selecting the pricing objective);
    2. Menentukan demand pasar (determining demand);
    3. Estimasi biaya (estimating cost);
    4. Persaingan bisnis (analyzing competitors cost, price, and offers);
    5. Metode penetapan harga (selecting a price method);
    6. Harga final (selecting the final price).




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyusun Strategi Positioning Pasar

Esensi Sesungguhnya Pemasaran

Fenomena Dan Pembangunan Flash Sale Online