Perlu Tidak NY Time Menutup Media Cetaknya?


Saya setuju bahwa dahulu koran/media cetak adalah alat satu2nya mencari segala informasi yagn kita butuhkan saat ini. tapi sekarang semua itu sudah tidak benar. Informasi saat ini sudah bisa diakses bebas melalui online dan media digital. Apalagi pertumbuhan oplah koran trend-nya melambat, melambat, dan turun. Bahkan ada yang bilang “selamat tinggal koran, selamat datang jurnalisme digital. Lonceng kematian pertama”. Yahh, what ever lah.

Namun dalam hal ini, saya tetap pada prinsip dan pandangan saya, bahwa saya fikir NY Time tidak perlu untuk menutup media cetaknya. Alasannya apa?

Alasannya sbb: (a) Pada Mei 2016, boss Amazon Jeff Bezos saja membeli Washington Post senilai 250 juta dollar. Ini bukti masih ada yang berani mengambil keputusan itu dan koran masih dianggap sebagai peluang bsinis; (b) Tidak harus menurutup oplah koran. Bisnis koran masih bisa berjalan dengan menggunakan “model bisnis (new business model)” yang baru. Memang pilihannya selalu, “beradaptasi atau mati!” semua hal memang pilihannya harus melakukan adaptasi (entah manusia homo sapien, entah bisnis, organisasi, kampus, sistem operasi, dll). Pun koran harus juga melakukannya; (c) Benar bahwa generasi sekarang tidak tumbuh dengan koran, mereka tumbuh degnan gadget. Tapi bukan berarti koran ditutup kan ya. Mereka punya segment-nya sendiri2.

Kalau masih ngotot tidak tutup. Lalu bagaimana membuat keputusan ini tetap bisa jalan dan sustain di masa yang akan datang?

Solusi agar sustain yaitu sbb: (a) Strategi sinergi, sebagaimana yagn dilakukan Koran Kompas. Disamping ia punya media cetak/surat kabar, dia juga punya situs online, penyiaran (tv, radio, dll), majalah, jarignan percetakan, jaringan retail, industri, pendidikan, dan lain sebagainya. Yakni sesuai core competence. Kalau tadi disebutkan core competence Honda bukanlah motor dan mobilnya, tapi mesinnya sehingga Honda mampu masuk ke jenis manapun industri yang bisa ia dalami. Saya melihat, surat kabarpun bisa melakukan itu. Asalkan diperbaiki mindset core competence-nya saat ini; (b) Jadi tidak perlu harus mematikan salah satunya. Anggap saja setiap dari hal tsb memang ada segmen2nya sendiri2. Sebagai pebisnis, kita hanya perlu melayani pasar sesuai demand yagn mereka minta. Namun kualitas produk, informasi, dan jurnalistik ya tetap harus dijunjung tinggi;

(c) Koran tidak boleh di-mindset hanya news paper saja, tapi harus berpikir core competence merambat ke news brand, tidak harus nomor satu, tapi yagn penting bisa disinergikan dengan media2 lain dibawah tsb;

(d) Riset Nielsen Advertising Information Services yagn dirilis oleh Nielsen Indonesia pada 1 Februari 2017 menunjukkan bahwa ada total belanja iklan di media cetak, surat kabar, dan televisi sepanjagn 2016 sebesar 134,8 triliun. Jumlah ini dikatakan naik 14% dari tahun sebelumnya. Belanja iklan koran sebesar Rp 29,4 triliun (22%), sementara televisi menyokong pertumbuhan belanja iklan sebesar Rp103,8 triliun (77%), dan untuk majalah hanya Rp1,6 triliun (1%). Riset ini memantau proporsi iklan yang mencakup 99 surat kabar, 123 majalah, 15 stasiun tv nasional, dan tabloit. Maksut riset ini adalah ingin menegaskan, bahwa surat kabar/media cetak masih punya prospek, masih punya peluang;

(e) Cara kelima adalah: kolaborasi dan partnership, yakni sebagaimana yang dilakukan oleh Microsoft dengan Pioneer News Group yang memportali 23 koran ternama yang ada di AS, katanya “orang masih membutuhkan koran sebagai sumber informasi dan ini masih berharga. Jika kita tetap melibatkan pembaca, disanalah cara koran mempertahankan dirinya sebagai bagian penting dari masyarakat”.

Begitu menurut saya. Terima kasih.

Salam,

Bahrul Fauzi Rosyidi
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyusun Strategi Positioning Pasar

Esensi Sesungguhnya Pemasaran

Fenomena Dan Pembangunan Flash Sale Online