Progress Bisnis Waralaba Yang Stagnan


Saya melihat, progress bisnis waralaba sedang stagnan. Apakah memang development atau pengembangan di bidang ini sedang rendah? Ataukah memang inovasinya yang tidak ada? Saya fikir kita sepakat didalam satu substansi ya. Bahwa butuhnya waralaba terhadap akses pasar, jaringan dan membentuk kerjasama meyakinkan terkait penjualan. Disamping itu, saya melihat sudah saatnya bisnis waralaba lokal dikenalkan dengan pasar luar negeri agar mereka belajar dan bisa membandingkan. Maksudnya, sudah waktunya mereka (waralaba lokal) masuk dan mengembangkan pasarnya di pasar global. Apakah selamat? Solusi inilah yang seharusnya kita kawal treatment-nya bersama-sama.

Lalu adakah informasi lainnya tentang ke-stagnanan ini? Ada. Saya melihat ini karena tingginya tekanan dominasi pertumbuhan waralaba internasional yang ada di Indonesia yang membuat waralaba lokal kita stuck, jalan di tempat. Data menyebutkan ada 700 jenis waralaba degnan 25ribu gerai di Indonesia; 65% adalah waralaba lokal, sisanya 35% asing. Itu jumlah 65% masa volume dan kualitasnya rendah, sedangkan 35% itu masa volume dan kualitasnya terbaik (Kementrian Perdagangan RI, 2017). Atas dasar data ini dan tekanan bisnis lainnya, saya fikir tetap pemerintah harus turun tangan menolong hal ini. Dorong bisnis ini ke kancah internasional, percailah nanti pasti ia akan bergeliat (moving-nya akan lebih menarik; karena mereka melihat pola persaingan baru dan harus bertahan/survive). Makanya, usaha kecil seperti budidaya ikan kerapu, burung walet, pembibitan dan pertanian perlu dibantu. Waralaba2 lokal yang daya saingnya tidak dibantu bersaing di tingkat global, ya akan kayak begini-begini saja bentuknya.

Apakah sistem/pola waralaba dalam bisnis penting? Sebagai variasi bisnis didalam strategi bisnis, ini penting juga ya. Waralaba bisa menjadi pilihan bagi mereka2 para pengusaha atau calon pengusaha yang ingin mandiri secara bisnis, tapi modal tidak besar. Business model waralaba menawarkan skema permodalan fleksible sehingga hampir semua orang bisa menekuninya. Hal yang minus di waralaba apa? Rendahnya adaptabilitas terhadap digital dan teknologi. Diapa2kan, bisnis harus memanfaatkan perkembangan ini. Kalau memang pengen jadi bisnis besar ya.

Sebagai pantes2an tulisan yang harus ada cantolan datanya hehe..#berikut saya tambahkan. Berdasarkan data yang dimiliki AFI atau Asosiasi Franchise Indonesia, bahwa saat ini ada lebih 200 jaringan waralaba dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 5juta orang. Dari akumulasi proforma para pengusaha di AFI tsb, untuk tahun 2018 ini mereka menarget capaian transaksi bisnis mencapai angka Rp75 triliun. Hmm, sebuah angka yang lumayan besar juga ya. Saya fikir dengan angka kontributif Rp75 triliun seharusnya pemerintah mengambil peran lah. Kalau perlu harusnya bantuannya sudah di tahap kontribusi yang jelas, yaitu pemerintah memfasilitasi link and match dan kerjasama akses pasar entah itu untuk skop penguasaan nasional atau akses pasar dan kerjasama untuk skala global. Saya yakin, dari seluruh daftar waralaba Indonesia yang mampu merambah ke internasional hanya hitungan jari saja.

Selain bantuan link and match dan kerjasama akses pasar, apalagi bantuan yang perlu dilakukan oleh pemerintah? Akses ekspor impor oke juga itu. Artinya, Indonesia melalui pengusaha AFI mendapat ekspor dari perdagangan jasa.

Memang tidak mudah mengembangkan waralaba lokal Indonesia ke kancah global, tetapi apapun kalau tidak dicoba dan dilakukan, kita tidak akan pernah tahu. Prinsipnya: “...You never try, you never know!” 

#Kalau tidak dibantu, waralaba2 lokal kita akan jalan ditempat saja.
#Waralaba lokal banyak diisi orang2 awam perkembangan.

Salam,

Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyusun Strategi Positioning Pasar

Esensi Sesungguhnya Pemasaran

Fenomena Dan Pembangunan Flash Sale Online