Ekowisata. Hmm, Memang Menjanjikan Ya?


Saat pemerintah berhenti perduli, saat itulah seharusnya kamu mulai khawatir.

Hasil riset Deputi Pengembangan Wisata Jawa Timur Banyuwangi menyebutkan bahwa: “kencenderungan wisatawan dunia telah bergeser ke arah ekowisata”. Ini saya lihat jelas sebuah peluang besar.

Indonesia saat ini punya kawasan konservasi yang tersebar di seluruh provinsi sebesar 556 unit dengan luas mencapai 27,26 juta hektar. Tahun 2019 pariwisata Indonesia ditargetkan mendapat kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 20juta orang dan 275 juta wisman Nusantara. Dari jumlah target kunjungan wisata tsb, ada 35% yang diharapkan masuk untuk kontribusi wisata alam.

Memang kendala kita saat ini apa? Kendala kita adalah: (a) besar potensi minim optimalisasi; (b) tumpang tindih peraturan dan tingginya ego sektoral; (c) kurang promosi dan minim tatakelola; (d) infrastruktur ekowisata yang buruk; (e) dan lain sejenisnya. Oleh karena itu kita butuh: (a) adanya dukungan peraturan yang jelas mengenai penggunaan taman nasional dan wilayah konservasi sebagai taman wisata; (b) dukungan dari berbagai stakeholder terkait mutlak sangat dibutuhkan. Siapa stakeholder didalam hal ini? (1) pemreintah; (2) masyarakat; dan (3) investor atau koperasi gaya Bung Hatta yang maju.

Tentu kita butuh komitmen. Entah komitmen ini secara pribadi/ individu/ swadaya apalagi komitmen pemerintah dalam hal ini, sudah tidak bisa dibantahkan kalau itu. Tujuannya apa? Tujuannya adalah berkelanjutan dan ada acuan yang jelas. Acuan yang jelas ini tolong masukkan dalam RPJMN/D. Caranya? Hubungkan indikator SDGs ini ke dalam RPJMD atau RPJMN. Dan jangan lupa, bereskan juga ttg Permen Pariwisatanya agar punya acuan yang jelas.

Pengembangan objek wisata alam harus dilakukan di Indonesia karena menjadi kekuatan wisata, khususnya di kawasan wisata konservasi. Konsep dan strategi “back to nature” sekarang menjadi trend terkini yg jadi incaran wisatawan dunia.

Ini harus dikembangkan serius dan tentunya mengacu pada kaidah2 keberlanjutan. Caranya? Mengikutsertakan masyarakat lokal/ sekitar dan berpegang pada tata nilai dan budaya setempat agar ada rasa saling memiliki (self beloonging). Kenapa seperti itu? Karena budaya/masyarakat sudah terbukti bisa merawat ratusan tahun dari genarasi ke generasi dan melahirkan pengetahuan2 baru dan tata kelola sumber alam yang terbutki kelestariannya. Contohnya, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Sumut. Atau ekowisata di Tangkahan yg akhirnya dibuat Tangkahan Simalem Ranger tahun 2001 bertugas menjaga Hutan Tangkahan dan berdirinya Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) tahun 2002. Artinya, masyarakat pun diikut sertakan dalam pengelolaan ekowisata daerahnya sehingga mereka bukan malah membalak hutan2 daerah tsb. Kedepan, saat kesadaran ini semakin tinggi, aktivis ekowisata itu pasti bisa menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitaran daerah tsb.

Saat kondisinya dicampakkan pemerintah seperti ini, kita harus menguatkan tekad mengajak untuk berdiri secara swadaya dimulai dari daerah kita masing-masing.

Salam,

Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyusun Strategi Positioning Pasar

Esensi Sesungguhnya Pemasaran

Fenomena Dan Pembangunan Flash Sale Online